Sabtu, 16 Februari 2013

MEMBACA KEDUDUKAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERSPEKTIF GEORGE R. KNIGHT DAN IMAM BARNADIB.

Membaca Kedudukan Filsafat Pendidikan (Perspektif George R. Knight Dan Imam Barnadib). Oleh: Tauhedi As'ad. A. Pendahuluan Filsafat merupakan proses berpikir untuk mencapai kebenaran motodologis yang harus dikaji secara sistematis. Berpikir kefilsafatan yang hendak dirumuskan dalam pendidikan untuk menyoroti terhadap profesi kependidikan baik secara teoritik maupun praksis. Problem dunia pendidikan didalam praktik kependidikan tidak mempunyai dasar-dasar berpikir tentang kefilsafatan, sehingga cara berpikir kefilsafatan mereka sangat sempit. Mempelajari filsafat, sebagian mereka sangat membosankan dan "jlimet", padahal filsafat mengajak berpikir yang benar untuk persoalan-persoalan kehidupan khususnya tentang kedudukan filsafat pendidikan secara umum. Sedangkan filsafat pendidikan tidak hanya mempelajari tentang teori dan konsep semata melainkan praktik untuk menemukan makna dan sistem kehidupan. Relasi filsafat pendidikan kedalam praktik kependidikan sangat diperlukan untuk dijadikan acuan sebagai sistem berpikir. Konsep inilah yang hendak dilakukan oleh Knight dan Barnadib untuk dipraktekkan kedalam dunia pendidikan secara teoritik maupun praktik. Filsafat pendidikan sangat signifikan dalam mengembangkan sebagai kerangka berpikir untuk landasan-landasan filosofis yang hendak dikaji kedalam praktik kependidikan dengan tujuan merumuskan potensi-potensi kehidupan sehingga filsafat pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat urgensif. Oleh karena itu, terobosan pemikiran filosofis yang ditujukan terhadap pendidikan untuk menemukan jalan buntuh yang lama tidak digagas secara sistemik sehingga pendidikan bercorak pragmatisme yang bernuansa statis dan tidak berkembang. Isu-isu filosofi inilah yang hendak dikaji oleh Knight dan Barnadib dalam pendidikan dengan tinjauan filsafat untuk menyelesaikan problem-problem dasar pendidikan sehingga relasi filsafat dan pendidikan dalam bentuk sintetik yang muncul dalam praktik pendidikan. Kiranya, penulis akan menjelaskan pembahasan berikutnya tentang kegelisahan, tujuan, metode dan konstribusi keilmuan terutama kedudukan filsafat pendidikan yang digagas oleh Knight dan Barnadib didalam bukunya ”Filsafat Pendidikan”. B. Kegelisahan, Tujuan, Metode dan konstribusi Keilmuan. Sebagai pemikir filsafat pendidikan, tentunya pendidikan harus bertujuan untuk menjawab persoalan yang sangat mendasar terutama mengenai profesi kependidikan yang dialami oleh masyarakat kontemporer. Sedangkan kegelisahan Knight muncul di Amerika Serikat yang cendrung materialistik-individualistik sehingga proses pendidikan mengalami ”mindlessness”, artinya pendidikan terlalu banyak bergerak tanpa pemikiran yang cukup matang tentang, tujuan, dan kebutuhan nyata, sehingga corak pendidikan masyarakat Amerika hanya mengejar pada teknik-teknik yang bergerak dari pada kemajuan tentang tujuan pendidikan yang sebenarnya. Sementara Barnadib hanya menjelaskan struktur berpikir tentang pendidikan yang filosofis terutama mengenai manusia sebagai makhluk budaya sehingga pendidikan harus menciptakan norma-norma sosial yang koorporasi sebagai esensi materi pendidikan. Menurut Knight, pemikiran merupakan sesuatu yang terus berproses, dan satu dari sekian banyak hasil yang paling berguna dalam kajian filsafat pendidikan yang telah tercapai. Jadi filsafat pendidikan adalah proses untuk menyelesaikan problem dan isu-isu yang muncul didalam dunia pendidikan pada abad ke-20 yang berkembang terutama masyarakat Amerika sehingga pendidikan selalu muncul dengan jawaban-jawaban, paling tidak pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai. Sedangkan menurut Barnadib, pendeskripsian filsafat pendidikan lebih menekankan pada aspek substansi dan tujuan dari kearah "mengetahui dan memahami" makna pendidikan, sistem, aliran, serta berbagai masalah-masalah terhadap pendidikan. Sedangkan tujuan Knight dan Barnadib dalam pembahasan ini, adalah menjelaskan pendidikan dengan cara kefilsafatan atau menggunakan paradigma filsafat sebagai analisis berpikir secara sistemik yang diperuntukkan kepada praktisi pendidikan, administrator, guru dan peserta didik untuk merumuskan filsafat pendidikan yang bercorak filosofis sehingga tujuan pendidikan tercapai secara maksimal. Sedangkan tujuan filsafat pendidikan menurut Knight hanya terletak pada empat hal, pertama untuk membantu para pendidik menjadi paham akan persoalan-persoalan mendasar pendidik. Kedua, memungkinkan mereka untuk mengevaluasi secara lebih baik tawaran-tawaran yang demikian banyak sebagai solusi bagi persoalan. Ketiga, untuk membekali mereka berpikir yang klarifikatif tentang tujuan-tujuan hidupnya dan pendidikan. Keempat, untuk memberikan bimbingan suatu paradigma yang konsisten secara internal dan suatu program yang berhubungan secara realistik dengan konteks dunia global yang lebih luas. Sementara tujuan filsafat pendidikan menurut Barnadib, hanya pendeskripsian filsafat pendidikan adalah untuk mengetahui dan memahami makna pendidikan secara mendasar. Untuk mewujudkan dari tujuan secara aplikatif, kemudian Knight dan Barnadib menggunakan metode filosofis, yaitu menjelaskan persoalan-persoalan pendidikan dengan menggunakan paradigma filsafat baik secara teoritik maupun secara praktis. Tentunya gagasan konseptual ini, sangat berguna didalam filsafat pendidikan yang berkaitan dengan isu-isu pendidikan kontemporer dan serta mampu untuk menjawab secara kritis terhadap praktik pendidikan yang serba gerak tanpa dilandasi berpikir yang matang sehingga wacana tentang pendidikan tidak hanya sebagai teknis belaka. Metode filosofis yang digunakan oleh kedua tokoh tersebut hanya menjelaskan secara kefilsafatan khususnya relasi filsafat dengan pendidikan serta kedudukan filsafat pendidikan dengan aliran-aliran filsafat yang berkembang, kemudian gagasannya digunakan kedalam konteks kependidikan. C. Relasi Filsafat Dengan Pendidikan. Hubuangan filsafat dengan pendidikan sangat urgensif, mengingat adanya obyek material adalah pendidikan, maka filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan sehingga muncullah apa yang dinamakan filsafat pendidikan. Hubungan keduanya sangat erat sekali, menurut Knight, hubungan filsafat dengan pendidikan melahirkan cara berpikir filosofis yang disusun secara sistematis kedalam kandungan isi kefilsafatan yaitu, pertama Metafisika atau kajian tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan hakikat kebenaran. Yang kedua, epistemologi atau kajian tentang bagaimana kebenaran dan pengetahuan itu diperoleh. Ketiga, aksiologi atau kajian tentang persoalan nilai. 1. George R. Knight. Knight merumuskan konsep filsafatnya membagi menjadi tiga aliran, yang pertama aliran filsafat tradisional, yang kedua aliran filsafat modern, dan ketiga aliran filsafat analisis. Ketiga konsep aliran filsafat ini, dijadikan pembacaan filosofis yan sangat mempengaruhi kedalam dunia pendidikan baik hubungannya dengan metafisika atau ontologi, epistemologi dan aksiologi. Menurut Knight model filsafat tradisional yang kononatasinya terhadap aliran-aliran filsafat contoh: aliran Idealisme, Realisme, Neoskolatisisme, sangat beragam didalam menggunakan teori maupun praktik kependidikan. Karena aliran filsafat tersebut memberikan corak dan karakter yang berbeda didalam menggunakan metodologi untuk kependidikan sehingga pendidikan lebih cenderung ke arah berpikir ideologis. Menurut William E. Hocking, penganut paham idealisme modern, dia mengungkapkan bahwa sebutan ide-isme kiranya lebih baik dibandingkan dengan idealisme, karena idealisme lebih condong dan berhubungan dengan konsep-konsep ‘abadi’. Sedangkan realisme berpandangan bahwa kebenaran terdapat di alam semesta dan alam adalah sebagaimana apa adanya, aliran realisme penekanannya pada pengembangan sains yang merupakan rumusan ilmiah tentang hukum alam itu sendiri. Sementara neosklastisisme adalah rasionalisme yang cenderung pada penekanan atas rasio manusia. Aliran tersebut merupakan kelanjutan dari pemikiran rasionalisme atau sebuah pengungkapan modern dari suatu filsafat tradisional. Berikutnya Knight membahas aliran filsafat modern ada dua kategori yaitu aliran pragmatisme dan aliran eksistensialisme. Sedangkan aliran pragmatisme merupakan reaksi atas idealisme dan realisme, karena dipandang secara apa adanya dengan indrawi serta adanya alamiah dan mutlak. Atau secara singkat aliran pragmatisme adalah reaksi filosofis terhadap fenomena alam. Pragmatisme juga masuk pada eksperimen yaitu memiliki pandangan bahwa alam ini terus ada perubahan, akan tetapi perubahan itu sebenarnya merupakan hasil eksperimen. Dan kebenaran adalah apa yang benar-benar diterima oleh masyarakat. Sementara eksistensialisme memandang bahwa kebenaran, kebaikan serta alam semesta merupakan definisi-definisi personal, setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan ukuran-ukuran, kebenaran-kebaikannya. Dengan demikian, pemahaman pemikiran yang hendak dilakukan dan dapat ditentukan oleh dirinya sendiri sesuai dengan paradigma kebenaran yang dapat dipercayainya. Aliran eksistensialisme penekanannya hanya pada sistem-sistem individu-individu yang iniversal dan abstrak atau yang disebut dengan aku universal. Oleh karena itu, kaufman mengindentifikasi inti dari dasar eksistensialisme sebagai berikut, pertama penolakan untuk dimasukkan kedalam pemikiran apapun, kedua penyangkalan akan memadainya sistem-sistem kefilsafatan dan rangkaian kepercayaan, ketiga ketidakpuasaan yang membekas terhadap filsafat tradisional sebagai hal yang supersifial, akademis, dan jauh dari kehidupan. 2. Imam Barnadib. Barnadib juga merumuskan keilmuannya tentang filsafat pendidikan yaitu tentang modus, akan tetapi Barnadib dipengaruhi oleh George F. Kneller dalam bukunya Introduntion To The Philosophy of Education, menyatakan adanya modus terbagi tiga bagian untuk mempelajari hubungan filsafat dengan pendidikan. artinya, modus yang biasa dipakai dalam filsafat juga berguna bagi filsafat pendidikan, yang pertama spekulatif, kedua preskriptif, dan ketiga analisis. Menurutnya ketiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena merupakan rangkaian pemikiran kefilsafatan untuk mempermudah didalam merumuskan sistem dan konsep-konsep filsafat pendidikan. Sedangkan mengenai epistemologi pengetahuan tentang filsafat ada kesamaan dengan pemikirannya Knight walaupun ada perbedaan garapan konsep-konsep filsafat pendidikan terapan. Lebih jelasnya pertama Spekulatif berarti pemikiran yang sistematis terhadap apa saja yang ada, baik secara abstrak maupun kongret. Filsafat berusaha menemukan relevansi antar berbagai situasi dan kondisi, pemikiran dan pengalaman. Dengan pencarian relevansi, dunia pikiran diharapkan dapat dipertemukan dengan pengalaman nyata. Sedangkan modus kedua, preskriptif. Dengan modus ini tercipta standar untuk mempelajari adanya peranan nilai bagi pendidikan. kedudukan nilai dalam kehidupan sangat fundamental sehingga diusahakan agar kualitas dan penerapannya selalu meningkatkan mutu kehidupan. Yang ketiga analisis yang berhubungan dengan kata-kata dan makna. Secara makro, Barnadib untuk membatasi ruang lingkup filsafat pendidikan adalah obyek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia dan alam, yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan biasa. Sebagaimana filsafat, filsafat pendidikan juga mengkaji ketiga obyek ini berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan ini, tidak jarang karya-karya mengenai pendidikan memuat obyek-obyek pembahasannya seputar sistem-sistem atau aliran-aliran filsafat yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Imam Barnadib dalam bukunya filsafat Pendidikan: Sistem dan metode, dengan merumuskan dan menggunakan kerangka berpikir yang digunakan oleh Theodore Brameld, menyajikan tiga sistem filsafat yang digunakan kedalam pendidikan, yaitu progresivisme, esensialisme, dan perenealisme. Ketiga sistem atau aliran filsafat tersebut dibahas pandangannya tentang Tuhan, alam, dan manusia dari sudut ontologi, epistemologi, dan aksiologi, maka sistem kefilsafatan tersebut digunakan kedalam pendidikan. D. Kedudukan Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah “general philosophy applied to education as a specific area of human endeavor”, demikian kata Knight. Maksudnya, filsafat pendidikan tidak berbeda dengan filsafat pada umumnya, dan perbedaannya hanya terletak pada bidang garapannya saja, yaitu masalah pendidikan. oleh karena itu, filsafat pendidikan merupakan filsafat terapan yang digunakan dalam bidang pendidikan. menurut Knight, paling tidak dapat diketahui dengan mudah mengenai kedudukan filsafat pendidikan dari pengetahuan filsafat secara umum, yaitu sebagai filsafat terapan. Pernyataan tersebut, adalah sebuah perspektif yang melihat filsafat pendidikan dari sudut ilmu filsafat. Tinjauan ini disebut apa yang dikatakan Barnadib sebagai pandangan linear mengenai filsafat pendidikan, yaitu bagaimana pemikiran filsafat dijabarkan kedalam dunia pendidikan. Penjabaran filsafat pendidikan secara linear untuk dipraktekkan kedalam dunia pendidikan sebagai tinjauan keharusan yang relavansioner. Oleh karena itu, dalam perspektif ini, yang dibahas adalah berbagai aliran filsafat, seperti pragmatisme, realisme, idealisme dan lain-lain, serta berbagai pandangan mengenai ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Kemudian, bagaimana aliran-aliran tersebut di interpretasikan dan diterapkan kedalam bidang pendidikan. Jadi, filsafat dan pendidikan dicarikan hubungannya secara linear. Jika filsafat pendidikan dilihat dari perspektif ilmu pendidikan, maka inilah yang disebut sebagai tinjauan nonlinear mengenai filsafat pendidikan. Di sini, jawaban filosofis berupaya ditampilkan tentang ruang lingkup dan masalah yang dikandung dalam ilmu pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah ilmu tentunya dihadapkan pada berbagai persoalan kemanusiaan yang menuntut tampilnya pendidikan sebagai solusi. Oleh karenanya, pendidikan harus dapat membangun dan mengembangkan konsep terkait isu-isu kemanusiaan tersebut. Konsep-konsep ini sudah barang tentu merupakan filsafat pendidikan. inilah yang disebut dengan pandangan nonlinear mengenai filsafat pendidikan. Pandangan nonlinear mengindikasikan bahwa ilmu pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Ilmu pengetahuan ini, selain bercorak teoritis, juga bersifat praksis. Dengan demikian, muncullah ilmu pendidikan teoritis dan ilmu pendidikan praktis. Yang pertama, mengutakan hal-hal yang bersifat normatif serta merujuk kepada nilai standar tertentu, sedangkan yang kedua menunjukkan bagaimana pendidikan itu seharusnya dilaksanakan. Dengan mengikuti pemikiran Langeveld, yang pertama disebut pedagogik, dan kedua, disebut dengan pedagogi. Adanya dua pembagian tersebut, tidak berarti pemisahan antara pendidikan sebagai teori dengan pendidikan sebagai praktik. Keduanya, merupakan satu-kesatuan yang terpadu, didalam ilmu pendidikan teoritis yang terkandung pemikiran-pemikiran tentang kepraktisan pendidikan. dalam membentuk dirinya, pendidikan berjalan dari praktik menuju sistem, dan akhirnya sampai pada dasar-dasar yang bersifat filosofis. Pada sisi lain, ilmu pendidikan praktis selalu berusaha mewujudkan cita-cita pendidikan yang bersifat teoritis. Hal ini, berarti, dalam ilmu pendidikan teoritis sudah tercakup prinsip-prinsip pedoman tentang bagaimana seharusnya pendidikan dilakukan. Landasan filosofis adalah asas normatif pendidikan yang disebut dengan filsafat pendidikan, sedangkan pandangan ilmiah adalah pedoman pelaksanaan pendidikan yang berkaitan dengan bidang-bidang ilmu pendidikan lainnya. Dari beberapa pernyataan diatas, kiranya dapat dikatakan bahwa kedudukan filsafat pendidikan dapat dilihat dari dua tinjauan yaitu linear dan nonlinear. Sedangkan linear, filsafat pendidikan berupaya mengkaji bagaimana pemikiran filsafat dijabarkan dalam dunia pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan berada pada satu garis lurus dengan filsafat umum. Sementara nonlinear, filsafat pendidikan umum merupakan landasan filosofis bagi sebuah pelaksana. Model inilah yang di gagas oleh kedua tokoh yang mengacu kepada filsafat pada umumnya untuk praktekkan kedalam dunia pendidikan dengan cara dasar perolehan pengetahuan yaitu dari aspek ontologi atau epistemologi, dan aksiologi. Kesimpulan Relasi filsafat dan pendidikan dalam konteks kependidikan merupakan keharusan yang harus dilakukan secara sistemik sesuai dengan struktur berpikir kefilsafatan. George R. Knight dan Imam Barnadib sama menggunakan landasan dasar filsafat yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, ketiganya digunakan kedalam aliran filsafat untuk mengetahui sistem filsafat yang hendak dilakukan baik pembahasan tentang Tuhan, Manusia, dan alam. Perlunya mempelajari filsafat pendidikan untuk berupaya membuka cakrawala berpikir kefilsafatan tertutama tentang isu-isu perkembangan pendidikan baik secara teoritik maupun secara praktis. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk terus-menerus berproses mencari kebenaran metodologis, agar nalar struktur berpikirnya tetap tersusun dengan baik dan mampu menjawab tantangan kapitalisme global dengan cara pendidikan sebagai alat formalnya untuk membenahi kekurangan-kekurangan tentang tujuan pendidikan. George R. Knight, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Gama Media, 2007). Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Adicita karya Nusa, 2002). Imam Barnadib, Arti dan Metode Sejarah Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan FIP-IKIP, 1982). Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan: Sistem, dan Metode, (Yogyakarta: Andi Offset, 1997). Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokrasi, (Jakarta: Kencana, 2007). Harold H. Titus dkk, Persoalan-Persoalan Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984). George R. Knight, Issues And Alternative in Educational Philosophy (Michigan: Andrews University Press, 1982). Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar